Dua Kekuatan Besar, Satu Kawasan yang Terjepit

Rivalitas antara Amerika Serikat dan China semakin meruncing dalam beberapa tahun terakhir — mulai dari perang dagang, persaingan teknologi, hingga ketegangan militer di Laut China Selatan. Bagi negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, situasi ini menciptakan dilema strategis yang nyata: bagaimana menjaga hubungan baik dengan kedua kekuatan besar tanpa kehilangan kedaulatan dan kebebasan kebijakan luar negeri?

Prinsip Sentralitas ASEAN

ASEAN selama ini mengedepankan prinsip ASEAN Centrality — yakni keyakinan bahwa kawasan Asia Tenggara harus menjadi poros dari berbagai arsitektur keamanan dan ekonomi regional, bukan sekadar arena perebutan pengaruh kekuatan luar. Prinsip ini mudah diucapkan, namun semakin sulit dipertahankan ketika tekanan dari Washington maupun Beijing terus menguat.

Isu-Isu Kritis yang Membelah ASEAN

Laut China Selatan

Klaim teritorial China yang luas di Laut China Selatan secara langsung berbenturan dengan zona ekonomi eksklusif (ZEE) Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei. Indonesia, meski bukan penggugat langsung, juga merasakan dampaknya di perairan Natuna. Putusan Mahkamah Arbitrase Internasional tahun 2016 yang menolak klaim China nyatanya tidak mampu mengubah perilaku Beijing di lapangan.

Ketergantungan Ekonomi pada China

China adalah mitra dagang terbesar bagi hampir semua negara ASEAN. Ketergantungan ini membuat negara-negara anggota enggan bersikap terlalu konfrontatif, meski ada gesekan di berbagai isu. Sementara itu, AS menawarkan alternatif melalui berbagai inisiatif seperti Indo-Pacific Economic Framework (IPEF).

Posisi Indonesia: Bebas Aktif di Era Baru

Indonesia secara konsisten menerapkan politik luar negeri bebas aktif — tidak memihak blok manapun dan berperan aktif dalam menciptakan perdamaian. Namun tekanan untuk "memilih sisi" semakin terasa, terutama dalam isu sanksi, investasi teknologi, dan pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista).

Para pengamat hubungan internasional menilai Indonesia perlu:

  • Memperkuat diplomasi multilateral melalui forum PBB, G20, dan ASEAN
  • Mendiversifikasi mitra ekonomi agar tidak terlalu bergantung pada satu negara
  • Membangun kapasitas pertahanan nasional secara mandiri
  • Memperjelas posisi dalam isu Laut China Selatan berdasarkan hukum internasional

Masa Depan ASEAN: Bersatu atau Terpecah?

Kekuatan ASEAN terletak pada konsensus. Namun ketika negara-negara anggota memiliki kepentingan yang berbeda dalam merespons tekanan AS dan China, konsensus itu semakin sulit dicapai. Jika ASEAN gagal berbicara dengan satu suara dalam isu-isu kritis, relevansinya sebagai aktor geopolitik akan melemah.

Yang jelas, bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya, kemampuan bermanuver di antara dua kekuatan besar adalah kompetensi diplomatik yang paling dibutuhkan di abad ke-21 ini.